Alasan untuk Tetap Hidup

October 10, 2018 Safira Nys
Aku rasa, kita bener-bener gatau sekuat apa rasa marah bisa mengendalikan perbuatan kita.
Orang bilang, rasa marah butuh dikendalikan. Manusia lebih besar dari rasa marah.

Tapi, apa yang bisa kamu lakukan jika marahmu rasanya sudah melewati ubun-ubun?
Rasa marah itu menenggelamkan dirimu dan punya kekuatan yang lebih besar daripada kamu.
Dia lebih besar daripada kamu. 
 
 

Yang aku lakukan?

Menelfon orang yang aku paling percaya. Hari itu, kebetulan keduanya tidak mengangkat.
Rasa kesalku sudah akan membawaku hanyut entah kemana.

Aku yang sedang berjalan kaki, sudah sangat siap untuk berlari ke tengah jalan besar.
Berdiri di sana, entah apapun yang akan menembus jiwa ini.

Rasanya, tidak ada yang bisa kulakukan lagi untuk membuang perasaan marah ini.

 
Tapi untungnya, aku menangis. 
 
Aku menepi ke tengah jalan dan membiarkan diriku menangis di pinggir jalan.
Tidak ada yang mendengar, bukan karena tangisanku tidak kencang. Tapi karena terlalu banyak kendaraan yang melaju lebih kencang daripada pikiranku sekarang. Berisik.

Aku nggak tahu berapa lama aku menangis. Yang aku tahu, rasa kesal yang menenggelamkan itu sudah berkurang. Jika rasa kesal itu seperti air, maka sekarang tinggi airnya hanya sampai di daguku saja. Aku tidak lagi tenggelam di dalamnya. 

Aku berhasil duduk di sebuah angkot. Kamu tahu? 

Aku adalah orang terakhir yang ditunggu oleh tukang angkot itu.
 
Sesaat setelah aku duduk, agkot itu pun berangkat.
 
Lalu aku bertanya-tanya, 
apa yang akan terjadi jika aku tidak pernah sampai di angkot itu? 


Penumpang angkot tidak akan sampai tepat waktu.

Bahkan mungkin gagal sampai di tempat tujuan mereka. Mereka akan panik, bahkan mungkin syok ketika melihatku tega mencelakai diriku sendiri. Kejadian ini juga bia berdampak pada sisi psikologis saksi. 

Aku tidak akan pernah dapat kesempatan untuk bikin SIM.

Hey, bikin SIM sekarang sulit sekali. Tes digagalkan, nembak tidak bisa. Kamu belum coba jalan-jalan dengan mobil sendirian, fir. Kamu selalu senang jalan-jalan. Mungkin nanti berkeliling kota sendirian bisa jadi obat peredam amarahmu. Sambil mendengarkan lagu GFriend, lalu menangis sendiri. Seru, kan?

Kamu belum coba Genki Sushi, Fir.

Dasar norak. Bener-bener cuma pengen Genki Sushi karena.. pengen lihat sushi dianter pakai kereta! Kalau Genki Sushi punya mesin gacha-gacha juga, itu akan lebih bagus, ya? Masa gak mau coba ke Genki Sushi? 


Aku belum pernah pergi ke Jepang.

Aku nggak yakin apakah setelah tidak hidup di dunia ini, aku akan menemukan tempat impian seperti Jepang. Nggak mau cari sushi 100yen an? Ga mau jalan kaki seharian sepuasnya? Ga mau boros jajan lucu di Daiso Jepang?

Aku masih ingin hidup dengan bahagia.

Kedengarannya memang sulit saat ini. Tapi masih banyak usaha yang bisa aku lakukan untuk membuat diriku sendiri bahagia, dengan atau tanpa orang di sekitarku. Karena aku tahu, aku nggak bisa terus menggantungkan rasa bahagia dan nyamanku pada oranglain. Bahkan jika aku sudah punya pasangan. 

Aku masih bisa berkarya.

Meskipun sudah tidak yakin tentang masa depanku, setidaknya masih ada hal yang bisa aku lakukan. Aku masih punya ide untuk dibagikan. Aku masih punya cerita yang harus disampaikan.
Salah satunya, ini.

Selamat hari kesehatan mental dunia! Aku tahu hidup ini sulit, terlebih jika kamu merasa sendirian. Tidak ada yang mengerti kamu. Kamu berjuang seorang diri melawan dunia yang keras. Kabar baiknya, kamu tidak sendirian. Kamu hanya harus percaya pada seseorang, atau dua. Bagilah rasa sakit dan sedih itu, hingga bebanmu berkurang.
 
Thanks for reading!
— Safira Nisa
Previous Article
Beauty Journal x Brun Brun Paris PVJ: Play with Color
Beauty Journal x Brun Brun Paris PVJ: Play with Color

Sebagai mahasiswa yang baru aja selesain skripsi, aku rasa aku ketinggalan banyak hal. Bukan karena ga pern...

Next Article
[Review] Purbasari Hi-Matte Lipcream Warna Baru 2018 (06, 07, 08, 09, 10, 11)
[Review] Purbasari Hi-Matte Lipcream Warna Baru 2018 (06, 07, 08, 09, 10, 11)

Percaya atau enggak, ini adalah kali pertama kalinya aku nyobain produk Purbasari. Aku nggak begitu familia...